6 Teknik Pengumpulan Data Kualitatif Untuk Penelitian Kontemporer

Artikel ini membahas mengenai teknik pengumpulan data kualitatif secara lengkap dan mudah dipahami sehingga bisa langsung Anda pakai pada penelitian. Selamat membaca.

teknik pengumpulan data kualitatif

Teknik Pengumpulan Data Kualitatif

Teknik pengumpulan data kualitatif sangat beragam dan cukup bervariasi. Nah, beberapa teknik yang paling umum digunakan adalah observasi, studi literatur atau studi pustaka, serta wawancara. Teknik yang lebih kontemporer dan sering dilakukan oleh para etnografer adalah mingling dan hangout.

Ketiga teknik umum dalam mengumpulkan data kualitatif juga terbagi menjadi beberapa macam. contohnya, observasi dapat dilakukan secara non-partisipatoris maupun partisipatoris. Sedangkan wawancara bisa dilakukan secara tidak terstruktur, semi terstruktur dan terstruktur.

Pembahasan mengenai data kualitatif secara lengkap bisa lihat disini.

Relevansi teknik tentu saja bergantung pada jenis data dan penelitian yang dibutuhkan. Jenis datanya bisa dilihat dari rumusan masalah yang dikemukakan oleh peneliti. Nah, berikut teknik pengumpulan data kualitatif yang umum diterapkan pada riset yang kontemporer.

1. Observasi

Observasi merupakan pengamatan yang dilakukan oleh para peneliti dengan cara melihat atau mendengar perilaku maupun fenomena sosial yang jadi fokus dalam penelitiannya. Hal ini dilakukan dalam rangka mendapatkan data penelitian.

Umumnya, data observasi dipakai sebagai pelengkap data dari teknik wawancara. Akan tetapi, observasi sering membantu peneliti dalam mengidentifikasi masalah penelitian dengan lebih tajam. Terutama saat dilakukan pada awal penelitian.

Alat yang dapat Anda gunakan saat melakukan pengamatan berupa catatan kejadian, ceklist, lembar pengamatan, dan lain sebagainya. informasi yang perlu didapatkan saat melakukan observasi atau bisa dikatakan sebagai hasil observasi adalah pelaku, ruang atau tempat, objek, kegiatan, kejadian atau peristiwa, perbuatan, perasaan dan waktu.

Macam Macam Observasi

Observasi biasanya dibagi menjadi dua yaitu partisipatoris serta non-pastisipatoris. Bahkan, belakangan ini dengan adanya perkembangan teknologi di bidang digital, membuka peluang dilakukannya observasi online.

• Partisipatoris

Observasi partisipatoris memungkinkan peneliti untuk memposisikan diri sebagai partisipan laiknya masyarakat maupun komunitas yang diteliti. Teknik ini akan memudahkan peneliti untuk berinteraksi langsung serta menyerap pengalaman kultural yang dialami para partisipan.

• Non-Partisipatoris

Teknik ini akan memberikan ruang ataupun jarak antara para peneliti dengan kelompok yang diteliti. Sehingga objektivitas data akan diperoleh. Teknik ini membuat peneliti berperan menjadi orang luar dari komunitas yang diamatinya. Peneliti bisa diibaratkan dengan mata-mata yang menginvestigasi fenomena dari jarak jauh.

• Partisipasi Online

Teknologi digital yang berkembang sedemikian rupa membuka peluang bagi para peneliti untuk melakukan teknik observasi online. Observasi jenis ini dengan mengamati interaksi digital pada subjek penelitian secara intensif.

Peneliti bisa terlibat interaksi online secara langsung dengan partisipan ataupun tanpa berinteraksi secara langsung dengan stalking akun sosmed dari partisipan. Perantara dari partisipasi online adalah teknologi digital.

Manfaat Pengumpulan Data Dengan Observasi

Manfaat dari teknik pengumpulan data dengan observasi adalah peneliti lebih mampu memahami konteks data di dalam keseluruhan situasi sosial yang terjadi, sehingga peneliti akan mendapatkan pandangan holistic dan menyeluruh.

Dengan observasi, peneliti juga akan mendapat pengalaman langsung, sehingga dapat dilakukan pendekatan induktif yang tidak terpengaruh oleh konsep maupun pandangan sebelumnya.

2. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data kualitatif yang sangat mainstream akan tetapi sangat penting. kualitas data primer dalam riset kualitatif sangat ditentukan oleh hasil wawancara. Bisa dilakukan secara terstruktur, semi-terstruktur, dan tidak terstruktur.

Menurut Sutopo, wawancara adalah alat rechecking atau pembuktian pada informasi maupun keterangan yang didapatkan sebelumnya. Interview merupakan usaha mengumpulkan informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan yang dilakukan secara lisan dan dijawab secara lisan juga.

Ada juga istilah lain yaitu in-depth interview yang artinya wawancara mendalam. Wawancara ini bisa dilakukan secara terstruktur ataupun tidak terstruktur. Laiknya teknik observasi, wawancara juga dapat dilakukan dengan perantara teknologi digital (online)

• Wawancara Terstruktur

Dalam wawancara terstruktur, pertanyaan yang akan diajukan peneliti disiapkan terlebih dahulu dalam bentuk daftar. Peneliti telah menyiapkan pertanyaan secara matang sebelum melakukan wawancara kepada informan. Daftar pertanyaan dianggap telah final serta ditanyakan pada partisipan tanpa adanya pengurangan atau tambahan.

• Wawancara Semi-Terstruktur

Teknik ini bisa memberikan peluang pada peneliti untuk mengeksplorasi jawaban lebih dalam dari narasumber dari pertanyaan yang disampaikan. Peneliti menggunakan panduan wawancara hanya untuk memastikan topik wawancara sudah ter-cover sepenuhnya.

Jika terdapat jawaban yang kurang memuaskan, maka peneliti dapat melakukan probing (mencecar) informan dengan pertanyaan improvisasi yang lebih dalam.

• Wawancara Tidak Terstruktur

Wawancara ini dilakukan secara spontan, jadi, tidak dibuat daftar pertanyaan terlebih dahulu. meski begitu, topik yang dibahas berhubungan dengan daftar pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Pertanyaan dilakukan secara sporadis. Jadi, tidak menutup kemungkinan peneliti bisa melakukan probing pada partisipan.

• Wawancara Online

Teknik ini bukan tergolong baru. Sebab, sudah sejak lama, wawancara bisa dilakukan melalui telepon. Bahkan, saat ini bisa dilakukan dengan cara video call dan voice note.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang peneliti ketika melakukan wawancara pada responden meliputi intonasi suara, sensitivitas pertanyaan, kecepatan berbicara, serta kontak mata, serta kepekaan non-verbal.

Ketika mencari informasi, ada dua jenis wawancara yang bisa dilakukan oleh peneliti meliputi:

• Wawancara autoanamnesa yang dilakukan dengan responden atau subjek
• Aloanamnesa yang dilakukan dengan keluarga responden.

Tips ketika melakukan wawancara yaitu:

• Mulailah dengan pertanyaan yang mudah terlebih dahulu
• Memulai menggunakan informasi fakta
• Hindarilah pertanyaan yang multiple
• Hindari menanyakan pertanyaan pribadi
• Mengulang kembali jawaban untuk melakukan klarifikasi
• Memberikan kesan positif
• Kantrollah emosi negatif.

3. Studi Literature

Teknik pengumpulan data kualitatif bisa dilakukan dengan cara menelusuri dokumen penting yang berkaitan dengan fokus penelitian. Teknik ini disebut dengan studi literature atau studi kepustakaan.

Data yang didapatkan bisa berupa gambar atau teks. Dokumen yang jadi sumber data tidak harus selalu berupa teks akademik laiknya laporan riset, jurnal, maupun policy brief. Tetapi, bisa juga dalam bentuk pamphlet, kartu nama, serta laporan jurnalistik.

4. Hangout

Teknik pengumpulan data kualitatif yang selanjutnya adalah hangout. Teknik ini biasa dilakukan pada riset etnografi serta fenomenologi. Peneltian yang lebih kontemporer mulai mengadopsi teknik ini sebab bisa menghasilkan data yang tidak dapat diperoleh dengan teknik yang lain.

Hangout artinya jalan bersama dengan partisipan dengan interaksi yang lebih intens. Peneliti bisa memperoleh data yang lebih natural karena partisipan lebih mempersepsikan dirinya dalam konteks ‘play’.

Studi naratif atau biografis mulai mengadopsi teknik ini. buku harian atau alat rekam jadi instrumen yang paling sering digunakan di dalam teknik hangout.

5. Mingling

Bisa dideskripsikan dengan aktivitas bercampur dengan orang lain pada suatu tempat untuk menjalin relasi melalui interaksi. Mingling merupakan pertemuan secara fisik pada sela waktu yang terbatas. Teknik ini biasa dilakukan peneliti saat ada dalam pertemuan diplomatic, seminar, atau konferensi.

6. Focus Group Discussion (FGD)

Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan di dalam penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menemukan makna dari tema menurut pemahaman dari sebuah kelompok. Teknik ini dipakai untuk mengungkapkan permaknaan dari suatu kelompok dengan hasil diskusi yang terpusat dalam permasalah tertentu. FDG merupakan kelompok diskusi yang bukan obrolan atau wawancara.

Penutup

Itulah artikel pembahasan mengenai teknik pengumpulan data kualitatif. Semoga bisa langsung di praktekkan.

Perbedaan kualitatif dan kuantitatif bisa lihat disini.

Terimakasih telah membaca dan sampai jumpa di artikel lainnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.